Seputar SeputarRangkuman praktis dan ulasan ringan untuk keseharian.
general

Fenomena Review Pendek yang Bikin Kita Gampang Tergoda

Mengapa video review singkat di media sosial lebih dipercaya daripada iklan? Pengamatan dari Sampit tentang tren konten terbaru.

15 Jan 2026 · 2 menit baca · oleh Redaksi Seputar
Fenomena Review Pendek yang Bikin Kita Gampang Tergoda

Pernah nggak kamu tiba-tiba nonton video orang mereview pisang goreng di TikTok langsung penasaran mau beli? Atau lihat seseorang pakai skincare murah meriah, trus kamu ikutan cari produknya? Akhir-akhir ini aku sering banget lihat hal kayak gitu di timeline. Bukan cuma di kota besar, di Sampit pun tren ini makin kelihatan. Orang-orang lebih percaya sama review dari akun random daripada iklan resmi.

Kenapa Review dari Orang Biasa Lebih Nendang

Aku sendiri mengalami pergeseran cara cari info. Dulu kalau mau beli gadget atau makanan, aku buka forum atau blog. Sekarang lebih sering scroll video pendek. Formatnya cepat, jujur, dan nggak lebay. Yang bikin beda adalah faktor kepercayaan. Ketika seseorang yang sama sekali nggak dikenal ngomong "enak banget, murah lagi," rasanya lebih natural. Apalagi kalau videonya diambil di dapur biasa atau pinggir jalan, bukan di studio. Itu menimbulkan kesan autentik Beberapa pertimbangan tambahan di seputar.

Fenomena ini bukan cuma soal belanja. Menurut Wikipedia, konten buatan pengguna atau user-generated content memang punya pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Di Indonesia, tren ini makin marak seiring murahnya kuota internet dan mudahnya bikin video. Banyak teman-teman di Sampit yang mulai bikin konten review dadakan. Mereka mereview jajanan pasar, tempat ngopi baru, sampai produk perawatan diri yang lagi viral. Niatnya sederhana: sharing aja. Tapi dampaknya luar biasa.

Yang menarik, review pendek ini juga membentuk kebiasaan baru. Orang jadi lebih selektif. Mereka lebih sering cek komentar dan cari bukti visual sebelum memutuskan. Brand besar pun mulai sadar, mereka harus bersaing dengan suara-suara kecil yang jujur. Iklan mahal kadang kalah saing sama video sederhana yang direkam pake smartphone.

Aku rasa kita sekarang hidup di era di mana suara orang biasa lebih didengar. Bukan berarti iklan hilang, tapi cara kita menyerap informasi berubah. Kita lebih suka rekomendasi hangat dari tetangga di dunia maya daripada janji manis dari layar bioskop. Ini tren yang sehat, asal kita tetap kritis. Jangan langsung percaya seratus persen, tapi ambil sisi positifnya.

Penutupnya, fenomena review pendek ini kayak cerminan budaya baru: orang ingin merasa punya kendali atas pilihan mereka. Lewat video-video singkat itu, kita belajar dari pengalaman nyata, bukan dari skrip pemasaran. Dan menurutku, itu hal yang pantas dirayakan.

Sumber lanjutan: sumber resmi

Tag: #trend #media-sosial #review #kebiasaan